Sabtu, 24 Januari 2026.
KABUPATEN TANGERANG - Sepertinya Slogan "Sukses Bersama" hanyalah isapan jempol semata dan sekadar nama bagi BUMDes Kemiri di Kabupaten Tangerang. Alih- alih merayakan kesuksesan ekonomi kerakyatan, badan usaha ini justru sedang merayakan "Eksodus" para pengurusnya.(24/01/2026)
Hal tersebut disampaikan Jubaedah, sang bendahara, yang secara resmi memilih angkat kaki dari lingkaran penuh drama tersebut.
Alasannya memang terkesan klasik, namun cukup pedas. Rasa tidak nyaman yang dialaminya sudah mencapai ubun - ubun.
"Maaf saya ingin fokus pada kegiatan sendiri saja," ujar Jubaedah singkat, seolah mengisyaratkan bahwa mengurus urusan pribadi jauh lebih logis daripada mengurus organisasi yang kondisinya lebih berantakan dari pada pasar tumpah.
Bahkan dari hasil penelusuran Awak Media di lapangan, Hal yang paling mengagumkan dari konflik ini adalah kemampuan "Ajaib" dalam pengelolaan anggaran.
Berdasarkan data dan sumber yang beredar, dana BUMDes yang awalnya gagah perkasa di angka Rp.340 juta, mendadak tiba - tiba menciut secara tragis menjadi Rp.3,9 juta di penghujung tahun 2025 kemarin. Sebuah efisiensi yang sangat luar biasa, atau mungkin sebuah misteri alam yang belum terpecahkan.
Sementara itu Alvian selaku Ketua BUMDes Kemiri, tampak seperti seorang kapten kapal yang baru sadar jika kapalnya bocor tapi tidak tahu siapa yang mengambil para sekoci. Sedangkan dirinya mengaku tidak pernah menyentuh, apalagi mencicipi dana tersebut.
"Aneh tiba - tiba sisa anggaran hanya Rp 3,9 juta. Kami sepakat tidak mengambil sisa uang itu, daripada nanti kami yang pusing untuk menjelaskan ke mana larinya ratusan juta sisanya," terang Alvian melalui pesan singkatnya
Sedangkan sang Kepala Desa terkesan Pasif, hingga para pengurus "Patah Hati" selain urusan uang yang "Menguap" entah ke mana, faktor utama bubarnya kemesraan ini adalah sikap Kepala Desa yang dianggap terlalu pasif mungkin saking pasifnya hingga menyerupai sosok patung dekorasi Desa.
Pengurus merasa semangat mereka untuk memajukan ekonomi Desa hanya dianggap sebagai angin lalu, lebih buruknya lagi, seakan dianggap sebagai "Pengemis" yang sedang meminta jatah.
Dukungan konkret yang diharapkan tak kunjung datang, sementara transparansi keuangan hanya menjadi mitos belaka. Alhasil, dedikasi para pengurus yang awalnya membara kini padam total, menyisakan kekecewaan yang lebih besar daripada saldo yang tersisa di rekening BUMDes.
Kini, dengan mundurnya Bendahara dan potensi mundurnya para pengurus lain, BUMDes Kemiri sukses menjadi contoh nyata bagaimana sebuah harapan besar bisa hancur hanya karena kurangnya komunikasi dan "Main Sulap" anggaran yang tidak lucu sama sekali.
(Red/Yanto)
