-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

iklan

Iklan

Indeks Berita

Deforestasi dan Tata Ruang Buruk, Akar Persoalan Bencana Banjir di Kabupaten Tangerang

Kamis, 22 Januari 2026 | 20:14 WIB Last Updated 2026-01-22T13:14:57Z

 

Ahmad Suhud, Direktur Eksekutif Lembaga BP2A2N Banten

Editor : Tri Wahyudi, RealitaNews.co.id_
‎Kamis, 22 Januari 2026.


KABUPATEN TANGERANG - Bencana bukan semata - mata akibat fenomena alam. Bahkan dalam kajian ilmiah maupun perspektif Al-Qur’an, manusia memiliki kontribusi besar pada kerusakan lingkungan yang memicu bencana. (22/01/2026) 


Hal tersebut disampaikan Ahmad Suhud selaku Direktur Eksekutif Lembaga BP2A2N Banten, yang menyimpulkan bahwa Rencana Tata Ruang Kabupaten Tangerang, memang sudah baik, tetapi implementasinya yang masih menemui banyak kendala,"ucapnya kepada Awak Media


Selain itu, harusnya tata ruang di Kabupaten Tangerang juga memiliki ketentuan untuk di Review dan itu paling tidak setiap 5 tahun sekali. Karena hasil Review tersebut nantinya akan bisa menjelaskan apakah perlu direvisi atau tidak.


Suhud, menekankan, jika tata ruang Kabupaten Tangerang, wajib di Review karena dinamika perkembangan saat ini sangat cepat. Dirinya juga menyoroti perilaku manusia yang masih tetap membuang sampah sembarangan dan menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan akhir.


"Kita sering terburu - buru menimpakan kesalahan kepada alam. Padahal tugas kita sebagai khalifah adalah menjaga dan mengharmonisasikan bumi agar tetap seimbang,” terangnya.


Suhud juga menegaskan, jika kerusakan yang terjadi di darat atau laut merupakan akibat ulah manusia, mulai dari eksploitasi sumber daya alam, pengabaian tata ruang, hingga alih fungsi lahan yang tidak terkendali.


Dirinya menjelaskan dalam literatur ilmiah klasik hingga modern, hujan, angin, dan gempa bukan dikategorikan sebagai penyebab bencana, melainkan pemicu (Triggering Factors). Faktor utama yang membuat suatu wilayah rentan justru perubahan yang dilakukan manusia terhadap struktur dan ekosistem alam," ungkapnya.


”Seperti contohnya SPBU, walaupun punya potensi kebakaran. Tapi tanpa pemantik, tidak akan terbakar. Pemantiknya adalah tindakan manusia,” ujarnya.


Disinilah kesalahan paradigma membuat sejumlah masyarakat mudah menyalahkan hujan sambil mengabaikan akar persoalan, seperti Deforestasi, tata ruang yang keliru, pembangunan di zona rawan, dan minimnya perencanaan risiko jangka panjang," tegasnya



(Red/Yanto)