![]() |
| Hector Souto Pelatih Timnas Futsal Indonesia (FFI) |
Jum'at, 6 Februari 2026.
JAKARTA – Tim Nasional Futsal Indonesia bersiap mengukir sejarah baru dalam partai puncak AFC Futsal Asian Cup 2026. Menjelang laga final melawan raksasa Asia, Iran, pada Sabtu (7/2/2026) besok, pelatih kepala skuad Garuda, Hector Souto, melancarkan perang urat syaraf (psywar) yang cerdik.
Pelatih asal Spanyol tersebut menegaskan bahwa meski Indonesia berstatus underdog, mentalitas para pemainnya justru sangat santai dan siap tempur.
Dalam konferensi pers pra-pertandingan di Jakarta, Jumat (6/2), Hector Souto menekankan filosofinya bahwa pertandingan final ini harus dinikmati, bukan dijadikan beban. Baginya, tekanan justru ada di pundak para pemain Iran yang memegang rekor 13 kali juara.
"Futsal adalah kenikmatan (pleasure), bukan tekanan (pressure). Bagaimana kami bisa merasa tertekan jika ini adalah final pertama kami? Iran-lah yang seharusnya tertekan. Mereka wajib menang karena tradisi mereka. Jika mereka kalah besok, itu adalah kegagalan besar bagi mereka," ujar Hector dengan nada provokatif namun optimis.
Menariknya, Hector Souto juga menyinggung catatan sejarah kekalahan langka Iran. Ia mengingatkan bahwa Iran pernah tumbang di tangan tim yang diasuh oleh pelatih berkebangsaan Spanyol.
"Hal baiknya adalah, mereka pernah kalah dari Miguel Rodrigo dua kali, dan dia orang Spanyol. Mereka juga kalah dari Pulpis di tahun 2012, dia juga orang Spanyol. Dan saya tidak tahu apakah Anda tahu dari mana saya berasal," candanya merujuk pada kebangsaan dirinya yang juga asal Spanyol.
Bintang lapangan Indonesia, Wendy Brian Lindrey Ick, mengamini ucapan sang pelatih. Baginya, kehadiran 10 ribu suporter yang akan memadati Indonesia Arena bukanlah beban, melainkan suntikan tenaga tambahan.
"Bagi saya tidak ada tekanan sama sekali. Justru saya merasa ini adalah rumah kita. Saya dan teman-teman tidak mau kalah di rumah sendiri," tegas Brian dengan penuh percaya diri.
Menghadapi Iran yang memiliki waktu istirahat lebih panjang, Hector mengakui bahwa pemulihan fisik adalah tantangan utama. Indonesia tidak akan memaksakan taktik pressing tinggi sepanjang 40 menit, melainkan akan bermain lebih cerdik.
"Kami harus bermain pintar (smart), mengatur tempo, dan membawa pertandingan hingga menit-menit akhir dengan peluang kemenangan," jelasnya.
Meski mewaspadai bintang-bintang dunia seperti Hossein Tayebi dan Moslem Oladghobad, Hector percaya kekuatan kolektif Indonesia mampu meruntuhkan dominasi Iran.
Akankah tangan dingin pelatih asal Spanyol kembali menjadi mimpi buruk bagi Iran? Seluruh mata pecinta olahraga tanah air akan tertuju pada perjuangan Skuad Garuda untuk meraih trofi perdana di kancah Asia.
(Asep Ikhsan Taufik)
