-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

iklan

Iklan

Indeks Berita

Dua Tahun Melawan Kanker, Seorang Ibu Single Parent di Serang Bertahan Demi Pendidikan Enam Anaknya

Rabu, 21 Januari 2026 | 09:53 WIB Last Updated 2026-01-21T02:53:51Z

 

Seorang ibu rumah tangga sekaligus single parent di Kota Serang mengidap penyakit kanker payudara stadium IV 


Editor : Tri Wahyudi, RealitaNews.co.id_
‎Rabu, 21 Januari 2026.


SERANG — Seorang ibu rumah tangga sekaligus single parent di Kota Serang harus berjuang keras melawan penyakit kanker payudara stadium IV yang dideritanya sejak dua tahun terakhir. 


Penyakit tersebut mulai dirasakan sejak kehamilan terakhirnya, namun penanganan medis baru dapat dilakukan setelah proses persalinan.


Sejak divonis mengidap kanker payudara, kondisi fisiknya terus menurun. 


Rasa sakit yang kerap kambuh membuatnya tidak lagi produktif bekerja. Bahkan, pada kondisi tertentu ia hanya bisa terbaring lemah. 


Hal tersebut berdampak langsung pada perekonomian keluarga, terlebih ia harus menanggung kebutuhan hidup enam orang anak tanpa pendamping suami.


Sejak sakit, saya sudah tidak bisa bekerja seperti dulu. Mau usaha lain juga sulit karena kondisi tubuh sering drop. 


"Padahal kebutuhan anak-anak tetap harus terpenuhi, mulai dari makan sampai biaya sekolah,” ujarnya dengan suara lirih.


Pengobatan kanker yang dijalaninya saat ini dilakukan di RSPAD Jakarta dengan menggunakan BPJS Kesehatan yang masih aktif karena statusnya yang sebelumnya terikat perusahaan. 


Namun demikian, tidak semua kebutuhan pengobatan dapat ditanggung BPJS. 


Biaya akomodasi, obat-obatan tertentu di luar BPJS, serta kebutuhan penunjang lainnya harus dibiayai secara mandiri, yang menjadi beban berat bagi dirinya.


Sekitar delapan bulan lalu, tepatnya pada Mei 2025, ia sempat mendapatkan kunjungan dari jajaran Pemerintah Kota Serang, termasuk Wakil Wali Kota Serang, Azis Aulia, bersama pihak kelurahan, dinas terkait, dan Puskesmas setempat. 


Dalam kunjungan tersebut, ia menerima bantuan uang tunai sebesar Rp3.000.000 serta paket sembako berupa beras 10 kilogram, mi instan, gula, susu kaleng, teh, dan sarden.


Selain bantuan tersebut, saat itu juga disampaikan adanya rencana bantuan lanjutan, termasuk pendidikan gratis bagi anak-anaknya dari jenjang PAUD hingga SMA. 


Namun hingga kini, janji tersebut belum terealisasi. 


Saat mencoba menanyakan kembali ke pihak kelurahan maupun dinas sosial, ia hanya mendapatkan jawaban bahwa bantuan masih dalam proses.


Kenyataannya sampai sekarang belum ada. Katanya sekolah gratis, tapi faktanya tetap harus bayar. 


"Saya bingung harus ke mana lagi,” tuturnya.


Akibat keterbatasan ekonomi, dua anaknya sempat putus sekolah, termasuk anak sulung yang duduk di kelas III SMA. 


Setelah berjuang dan dibantu oleh pemilik rumah tempat tinggalnya serta pihak lain yang peduli, satu per satu anaknya mulai bisa kembali bersekolah, meski masih menyisakan tunggakan biaya pendidikan.


Saat ini, ia tinggal di rumah kontrakan dengan keringanan dari pemilik rumah yang memperbolehkan pembayaran seadanya. 


Meski demikian, ia tetap berusaha membayar sesuai kemampuannya karena tidak ingin sepenuhnya bergantung pada belas kasihan orang lain.


Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia sempat berjualan makanan di daerah tambak yang berjarak sekitar satu jam perjalanan menggunakan sepeda motor. 


Namun beberapa hari lalu, kondisi fisiknya kembali drop akibat kelelahan, sehingga ia terpaksa menghentikan sementara aktivitas tersebut.


Sebagai seorang ibu sekaligus single parent, ia menyampaikan harapan besar kepada pemerintah agar janji bantuan yang pernah disampaikan dapat direalisasikan, khususnya terkait pendidikan anak-anak dan bantuan berkelanjutan bagi penderita penyakit kronis.


"Saya mohon perhatian pemerintah. Saya tidak minta berlebihan, hanya butuh bantuan yang memang dijanjikan, karena kondisi saya benar-benar membutuhkan,” pungkasnya.



(Red/Dian)