-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

iklan

Iklan

Indeks Berita

Jangan Mengejar Kupu - Kupu, Tapi Rawat Kebunmu dan Biarkan Kupu - Kupu itu Datang Sendiri

Jumat, 09 Januari 2026 | 12:13 WIB Last Updated 2026-01-09T05:14:04Z

 


Editor : Tri Wahyudi, RealitaNews.co.id_
‎Jum'at, 9 Januari 2026.


KABUPATEN TANGERANG  -  Pernahkah kamu melihat seseorang yang begitu gigih mengejar sesuatu namun justru semakin jauh dari apa yang ia inginkan ? Seperti anak kecil yang berlari di padang rumput mencoba menangkap seekor kupu - kupu dengan tangan kosong, semakin cepat ia berlari, semakin lincah pula kepakan sayap kupu - kupu itu menghindar. Kelelahan, peluh, dan rasa kecewa adalah hasil akhirnya.


Hal tersebut menjadi sebuah inspirasi dan filosofi bagi Ahmad Suhud, Aktivis dan juga selaku Direktur Eksekutif Lembaga BP2A2N Banten, dalam menjabarkan atau mengibaratkan iklim Demokrasi di Negeri ini. 


Menurutnya, Dunia sering mengajarkan kita untuk menjadi “Pemburu”. Kita diajarkan untuk mengejar karier, mengejar cinta, mengejar validasi, dan mengejar kebahagiaan. Namun, ada sebuah hukum alam yang sering kita lupakan : Sesuatu yang dikejar akan cenderung menjauh. Rahasia besar untuk mendapatkan apa yang Anda inginkan bukanlah dengan mengejarnya, melainkan dengan memantaskan diri hingga hal tersebut datang sendiri kepada Anda.


Dan ketika kita terlalu fokus mengejar “Kupu - Kupu”, kita jadi cenderung mengabaikan aset paling berharga yang kita miliki, yaitu diri kita sendiri. 


Seorang pemburu yang hanya fokus pada buruannya dan sering kali lupa merawat senjatanya, lupa memperhatikan staminanya, bahkan kehilangan jati dirinya sendiri, karena terus mencoba menjadi apa yang di inginkan oleh objek buruannya. Mengejar tanpa henti menciptakan Aura “Kekurangan” (Scarcity).


Saat kita mengejar, secara tidak sadar mengirimkan pesan kepada semesta bahwa kita tidak memilikinya, kurang, tidak cukup, dan merasa butuh. Ironisnya, hal - hal terbaik dalam hidup itu seperti rasa hormat, cinta yang tulus, dan peluang emas justru datang kepada mereka yang memancarkan Aura, “Kelimpahan” (Abundance),"jelas Ahmad Suhud


Lalu jika kita, siap berhenti menjadi pemburu dan mulai menjadi penanam, berikut ini adalah strategi radikal yang bisa Anda terapkan sebagai rutinitas harian :


1). Identifikasi dan Cabut “Gulma” Mental


Sebelum menanam sesuatu yang baru, lahan harus bersih. Gulma adalah hal - hal yang menyerap energi kita tanpa hasil. Cobalah untuk tidak membuka media sosial minimal satu jam setelah bangun tidur. Unfollow akun yang memicu rasa rendah diri, dan batasi interaksi dengan orang - orang "Toxic" yang hanya menghisap nutrisi jiwa Anda.


2).Tanam “Benih” Kompetensi dan Karakter


Kebun yang indah tidak hanya punya satu jenis tanaman. Alokasikan minimal 30 hingga 60 menit sehari tanpa gangguan ponsel untuk mempelajari keahlian baru atau membaca buku yang bergizi. Ingat, karakter adalah akar; tanpa akar yang kuat, bunga sehebat apa pun akan tumbang saat badai kritik datang.


3) Sirami dengan Disiplin, Bukan Sekadar Motivasi


Motivasi itu seperti air hujan yang datang sesekali. Disiplin adalah sistem irigasi yang Anda bangun sendiri. Mulailah hari dengan kendali diri, seperti olahraga ringan atau meditasi selama 15 menit untuk menjernihkan pikiran sebelum merespons notifikasi dunia luar. Perubahan 1% setiap hari jauh lebih baik daripada ledakan ambisi yang hanya bertahan 2  hari.


4). Bangun “Pagar” Batasan (Boundaries)


Kebun tanpa pagar akan diinjak - injak oleh orang lewat. Belajarlah berani berkata “Tidak” pada rencana atau ajakan yang tidak bermanfaat bagi pertumbuhan Anda. Selain itu, luangkan waktu 5 menit di akhir hari untuk menulis satu hal yang patut kita syukuri. Pagar ini melindungi kedamaian batin kita dari gangguan luar.


Ada kekuatan Magnetis dalam diri seseorang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Ketika kita sibuk merawat kebun, objek yang di inginkan akan datang sendiri karena kompetensi dan karakter kita memancarkan nilai yang sulit diabaikan.


Dan bagian terbaiknya adalah: Kita tidak lagi bergantung pada kehadiran kupu - kupu. Lalu saat kebun kita sudah indah, akan merasa bahagia meskipun kupu - kupu itu belum datang. Kita menikmati keindahan bunga - bunga milik sendiri. Kita menjadi mandiri secara emosional dan memiliki harga diri yang utuh.


Ada sebuah kalimat bijak dan mendalam menurut Ahmad Suhud, “Jika kupu - kupu itu tidak datang, setidaknya kamu masih memiliki kebun yang indah.”


Artinya, Jika Anda menghabiskan waktu untuk mengejar yang gagal, Anda tidak mendapatkan apa - apa selain kelelahan sendiri. Namun, jika kita menghabiskan waktu untuk merawat kebun dan kupu - kupu itu tidak datang, tentunya kita tetap menang, memiliki diri yang berkualitas, mental yang sehat, dan hidup yang tertata.


Intinya, Alihkan fokus dari “Mendapatkan” kini  harus “Menjadi”. Rawatlah kebunmu dengan penuh kasih, disiplin, dan kesabaran. 


Percayalah, pada saat yang tepat, kupu - kupu yang paling indah akan memilih kebun kita sebagai tempat ia menetap. Sebab dunia tidak memberikan apa yang kita inginkan, tapi dunia memberikan apa yang layak bagi diri kita," pungkasnya. 



Filosofi & Inspirasi ini ditulis Oleh  : 

Ahmad Suhud (Aktivis dan Direktur Eksekutif Lembaga BP2A2N Banten)