![]() |
| Kunjungan peserta Kemah Budaya PWI Pusat di Aula Museum Multatuli |
Minggu, 18 Januari 2026.
Lebak — Pemerintah Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, berharap memperoleh dana afirmasi infrastruktur dari pemerintah pusat atas perannya sebagai kawasan penyangga ekologis bagi Jakarta dan Banten. Kabupaten Lebak memiliki tutupan hutan yang signifikan serta menjadi bagian dari kawasan konservasi, seperti Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), yang dikelola pemerintah pusat melalui Kementerian Kehutanan.
Konsekuensi dari kebijakan tersebut membuat Lebak hanya dapat dikembangkan sebagai kawasan industri hijau dan tidak memungkinkan menjadi kawasan industri konvensional seperti Serang atau Cilegon.
“Oleh karena itu, kami berharap pemerintah pusat dapat memberikan dana afirmasi untuk pembangunan infrastruktur, seperti jalan,” ujar Asisten III Setda Lebak Iyan Fitriyana saat menerima kunjungan peserta Kemah Budaya PWI Pusat di Aula Museum Multatuli, Lebak, Jumat (16/1/2025).
Hadir dalam kesempatan tersebut Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian (DiskominfoSP) Kabupaten Lebak dr. Anik Sakinah, M.Si., Kepala Museum Multatuli Ubaidilah Muhtar, Ketua Departemen Seni, Musik, Film, dan Budaya PWI Pusat Ramon Damora, Ketua Departemen Kerja Sama Antar Lembaga PWI Pusat Kadirah, Sekretaris PWI Provinsi Banten Fahdi Khalid, Koordinator Kemah Budaya Kunni Masrohati, para pejabat di lingkungan Setda Lebak, serta wartawan dan sastrawan dari berbagai daerah.
Pada kesempatan itu, Iyan Fitriyana juga memuji peran wartawan yang selama ini aktif memberitakan berbagai persoalan yang belum tertangani oleh pemerintah daerah. Ia mencontohkan peran wartawan saat pandemi Covid-19, yang turut menyebarkan informasi positif terkait vaksinasi dan kondisi wilayah yang membutuhkan perhatian lebih.
“Oleh karena itu, Bapak Bupati menyambut gembira dipilihnya Kabupaten Lebak, khususnya Kampung Baduy, sebagai destinasi wisata budaya dalam rangkaian kegiatan Hari Pers Nasional (HPN) yang tahun ini diselenggarakan di Banten,” kata Iyan.
Mantan camat itu berharap para peserta Kemah Budaya dapat memahami kearifan lokal, cara hidup, serta adat istiadat masyarakat Baduy.
Mewakili PWI Pusat, Ramon Damora menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Lebak atas dukungannya dalam menyukseskan kegiatan Kemah Budaya di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar.
“Setelah mengikuti Kemah Budaya, para wartawan dan sastrawan akan menulis tentang Baduy. Karya-karya tersebut akan dibukukan dan diluncurkan pada puncak acara HPN, 9 Februari 2026, yang rencananya akan dihadiri Bapak Presiden (Prabowo Subianto),” ujar Ramon.
Pada kesempatan tersebut, Pemkab Lebak juga menyerahkan cinderamata kepada perwakilan wartawan Novi Balga dan perwakilan sastrawan Rini Intama.
Usai acara penyambutan, para peserta Kemah Budaya diajak berkeliling Museum Multatuli. Diketahui, Multatuli merupakan nama pena Eduard Douwes Dekker, penulis novel Max Havelaar yang mengkritik sistem kolonialisme dan ketidakadilan di Hindia Belanda. Novel tersebut memicu perdebatan luas di Eropa dan menjadi salah satu pemantik tumbuhnya kesadaran kaum bumiputra menuju kemerdekaan.
(Red)
