-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

iklan

Iklan

Indeks Berita

Pasokan dan Distribusi Diperkuat, Harga Cabai di Pasar Induk Kramat Jati Mulai Turun

Rabu, 18 Februari 2026 | 21:14 WIB Last Updated 2026-02-18T14:14:26Z

 


Realitanews.co.id | Jakarta - Harga cabai rawit merah di Pasar Induk Kramat Jati (PIKJ) mulai menunjukkan tren penurunan. Para pedagang mengakui, tambahan pasokan dan dukungan fasilitasi distribusi dari pemerintah berperan dalam meredam lonjakan harga menjelang puasa dan Idul Fitri.


Ujang, salah satu pedagang cabai di PIKJ, menyampaikan bahwa harga saat ini mulai bergerak turun dibandingkan pekan sebelumnya.


"Sebelumnya harga bisa di kisaran Rp 90.000-an (per kg). Dengan kondisi sekarang, bisa turun sekitar Rp 5.000 menjadi Rp 85.000 atau bahkan Rp 80.000 tergantung hasil tawar-menawar. Pembeli biasanya mulai menawar di Rp 80.000, bahkan Rp 70.000–Rp80.000,” ujarnya, pada Senin (16/2).


Senada dengan itu, pedagang lainnya, H Joharlis, menilai masuknya pasokan dari luar daerah, termasuk dari Sulawesi Selatan, membantu menjaga harga tetap terkendali.


"Harganya sudah turun sedikit. Kalau tidak dibantu dari Makassar, harga cabai bisa saja mencapai Rp 150.000. Biaya distribusinya sekitar Rp 9.000 sampai Rp 10.000. Dalam kondisi seperti ini, kalau ongkosnya dibantu, harga bisa ditekan. Jika biaya distribusi digratiskan, pedagang tidak akan berani menaikkan harga sehingga harga tetap bisa dikendalikan," ungkapnya.


Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa menjelaskan, secara nasional produksi cabai rawit dalam kondisi cukup. Kenaikan harga yang terjadi sebelumnya lebih dipengaruhi kendala teknis di distribusi.


"Memang ada dua problem, yang pertama adalah secara prinsip pasokan atau stoknya tinggi, cukup produksinya tinggi, tapi problemnya dalam petik. Pada saat hujannya tinggi, tenaga kerja yang memetik tidak ada, tidak berani karena akan cepat busuk," jelas Ketut saat sidak Satgas Saber Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan di PIKJ.


Selain faktor cuaca, momentum libur juga memengaruhi ketersediaan tenaga kerja panen sehingga pasokan yang masuk ke pasar sempat terkoreksi.


"Secara produksi sangat cukup. Jadi itu bedanya ya, produksinya sangat cukup, metiknya yang takut, karena hujan dan lain sebagainya, mereka tidak berani metik karena akan langsung busuk," tambahnya.


Untuk mempercepat stabilisasi, Bapanas akan mengoptimalkan Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP), terutama dengan membantu menekan ongkos angkut dari sentra produksi ke Jakarta yang saat ini berkisar Rp 9.000–10.000 per kilogram.


"Sebagaimana perintah dari Bapak Andi Amran Sulaiman (Kepala Bapanas), lakukan FDP, maka ini akan bisa mengkoreksi harga, minimal Rp 5.000 sampai Rp 10.000," tegas Ketut.


Pasokan tambahan difokuskan dari Jawa Barat sebagai sentra terdekat serta dari Sulawesi Selatan, termasuk Kabupaten Enrekang, yang telah menyatakan kesiapan memasok cabai rawit ke Jakarta.


Dengan kombinasi peningkatan pasokan dan intervensi biaya distribusi, harga di tingkat pasar induk mulai terkoreksi dan diharapkan segera diikuti stabilisasi di tingkat pasar turunan.


Bapanas memastikan langkah stabilisasi akan terus dilakukan secara terukur dan kolaboratif, agar harga cabai rawit tetap wajar serta tidak memberatkan masyarakat, khususnya menjelang momentum hari besar keagamaan nasional puasa dan Idul Fitri. 


Dalam kesempatan yang sama, Satgas Pangan Polri Brigjen Pol Zain Dwi Nugroho menegaskan komitmennya dalam pengawasan pasokan dan harga pangan.


"Kami dari Satgas Pangan Polri tentunya bersama-sama dengan Bapanas, sama-sama dengan Dinas Ketahanan Pangan dan dari perdagangan tentunya, sama-sama terus memonitor dan melakukan pengawasan terhadap ketersediaan dan kestabilan harga. Tentunya kita berharap menjelang kegiatan hari besar keagamaan nasional, tentunya kita berharap pasokan lancar, kemudian harga bisa kita tekan tetap stabil, jadi seperti itu." tegasnya.(Red/Dian).