Realitanews.co.id | Lebak — Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMP Negeri 8 menjadi sorotan setelah ditemukan adanya sisa makanan yang disebut cukup banyak setiap hari.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, sisa makanan dari program MBG tersebut dikumpulkan dalam sebuah ember. Sejumlah siswa menyebut kondisi tersebut bukan hanya terjadi sekali, tetapi hampir setiap hari selalu terdapat makanan yang tersisa, bahkan jumlahnya disebut bisa lebih dari satu ember.
“Setiap hari memang selalu ada yang tersisa. Kalau menunya telur, biasanya lebih banyak yang tidak habis karena anak-anak kurang suka,” ujar seorang siswa saat ditemui, Selasa (18/8/2026).
Menurut keterangan siswa, sisa makanan tersebut kemudian diambil oleh seseorang berinisial S untuk dimanfaatkan sebagai pakan bebek.
Saat dikonfirmasi mengenai sisa makanan tersebut, S membenarkan bahwa dirinya mengambil makanan yang tersisa. Ia mengatakan makanan tersebut biasanya sudah tidak dikonsumsi oleh para siswa sehingga dimanfaatkan untuk pakan bebek.
Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas penyediaan menu MBG di sekolah, khususnya dalam menyesuaikan jenis makanan dengan selera dan kebutuhan siswa.
Anggaran yang begitu besar digunakan pemerintah untuk meningkatkan gizi anak sekolah melalui program MBG. Program tersebut diharapkan mampu memastikan kebutuhan nutrisi peserta didik terpenuhi sekaligus mendukung tumbuh kembang dan kualitas generasi muda.
Namun, ketika makanan yang telah disiapkan justru banyak tersisa dan tidak dikonsumsi siswa, kondisi tersebut patut menjadi perhatian. Makanan yang seharusnya menjadi asupan bergizi bagi anak-anak pada akhirnya berpotensi menjadi pemborosan anggaran apabila terjadi secara berulang.
Setiap porsi makanan tentunya memiliki komponen biaya, mulai dari pengadaan bahan baku, pengolahan, pengemasan, hingga distribusi dan penyajian. Ketika makanan tidak dikonsumsi, manfaat dari anggaran yang telah dikeluarkan pemerintah menjadi tidak optimal.
Terlebih jika sisa makanan terjadi setiap hari dengan jumlah yang cukup banyak. Jika diakumulasikan berdasarkan jumlah porsi dan frekuensi kejadian dalam jangka waktu tertentu, nilai makanan yang tidak termanfaatkan berpotensi menjadi cukup besar.
Karena itu, persoalan sisa makanan di SMP Negeri 8 tidak semestinya hanya dilihat sebagai persoalan makanan yang tidak habis. Hal tersebut juga berkaitan dengan efektivitas penggunaan anggaran pemerintah dan pencapaian tujuan program MBG.
Evaluasi terhadap menu, porsi, kualitas makanan serta tingkat penerimaan siswa dinilai penting dilakukan. Menu yang tidak disukai siswa perlu menjadi bahan evaluasi agar makanan yang telah dianggarkan dan disediakan benar-benar dikonsumsi serta memberikan manfaat gizi sebagaimana tujuan program.
Pihak sekolah maupun penyelenggara MBG juga perlu memberikan penjelasan mengenai jumlah makanan yang tersisa setiap hari, mekanisme pengelolaan sisa makanan, serta langkah evaluasi yang dilakukan apabila ditemukan makanan yang berulang kali tidak dikonsumsi siswa.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak SMP Negeri 8 mengenai jumlah pasti makanan yang tersisa maupun nilai anggaran yang berpotensi tidak termanfaatkan. Oleh karena itu, diperlukan klarifikasi dan data yang lebih terukur untuk memastikan sejauh mana persoalan tersebut terjadi dan apakah telah dilakukan evaluasi.
Hkz
