Realitanews.co.id | PANDEGLANG — Sebuah video pertunjukan musik yang beredar melalui akun TikTok AP Production menjadi sorotan setelah memperlihatkan aksi saweran yang diduga dilakukan dengan melemparkan uang ke arah wajah sejumlah biduan. Situasi kemudian memanas hingga pertunjukan musik berhenti.
Peristiwa tersebut disebut terjadi pada Rabu malam, 30 September 2026, di Kampung Batu Hideng, Desa Mangkualam, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, Banten. Acara tersebut menghadirkan Bunda Laura Musik sebagai pengisi hiburan.
Dalam video yang menjadi sumber informasi awal, sejumlah biduan terlihat sedang bernyanyi dan berjoget ketika seorang pria berbaju hitam memberikan saweran. Pria tersebut diduga melemparkan uang ke arah wajah tiga biduan yang sedang tampil.
Cara menyawer tersebut kemudian mendapat teguran dari salah seorang biduan berinisial S. Ia mengingatkan pria tersebut agar memberikan saweran dengan cara yang lebih sopan.
“Bos, biasa aja, Bos, nyawernya. Enggak usah dilempar ke muka, malu katanya sama Pak Lurah,” demikian ucapan S berdasarkan kronologi yang disampaikan.
Situasi kemudian berlanjut ketika biduan lain berinisial E, yang juga diduga menjadi sasaran saweran, bereaksi dan memilih duduk. E disebut tidak melanjutkan penampilannya setelah kejadian tersebut.
Ketegangan meningkat ketika seorang pria berbaju kotak-kotak yang berada di dekat pria berbaju hitam mengambil mikrofon dari salah satu penampil. Pria tersebut kemudian melontarkan sejumlah ucapan dengan nada tinggi, di antaranya, “Udah kamu tutup,” “Bangsat kamu,” serta “Biduan kayak gitu kok marah.”
Setelah kejadian tersebut, pertunjukan musik dilaporkan berhenti. Sejumlah penonton yang berada di lokasi terdengar bersorak menyaksikan situasi tersebut.
Etika terhadap Pelaku Seni Menjadi Sorotan
Peristiwa ini memunculkan pertanyaan mengenai penghormatan terhadap pelaku seni yang sedang menjalankan pekerjaannya. Pemberian saweran dalam pertunjukan musik semestinya tidak menghilangkan batas kesopanan maupun martabat penampil.
Biduan dan musisi merupakan bagian dari pekerja seni yang turut menghidupkan kegiatan hiburan masyarakat. Karena itu, perlakuan yang merendahkan atau membuat penampil merasa tidak nyaman patut menjadi perhatian, terlebih jika situasi tersebut berujung pada terhentinya pertunjukan.
Dalam kejadian ini, teguran biduan S agar saweran dilakukan dengan sopan menjadi bagian penting dari kronologi. Respons yang kemudian terjadi menunjukkan perlunya semua pihak menjaga sikap agar hiburan masyarakat tetap berlangsung secara aman dan saling menghormati.
Bupati dan Dinas Terkait Diminta Menelusuri Informasi
Sorotan lain muncul dari informasi di kolom komentar media sosial yang menyebut pria berbaju kotak-kotak sebagai kepala desa. Namun, identitas dan jabatan pria tersebut belum terkonfirmasi secara independen.
Apabila informasi mengenai jabatan tersebut benar, perilaku seorang pejabat publik di ruang sosial patut menjadi perhatian karena pejabat desa juga diharapkan memberikan contoh sikap yang menghormati masyarakat, termasuk para pekerja seni.
Bupati Pandeglang serta perangkat daerah yang membidangi pemerintahan desa dapat diminta menelusuri informasi tersebut secara objektif, termasuk memastikan identitas pihak yang terlibat dan meminta penjelasan mengenai kronologi kejadian.
Jika kemudian terbukti terdapat pelanggaran terhadap ketentuan atau kewajiban jabatan yang berlaku, pihak berwenang diharapkan menindaklanjutinya sesuai mekanisme dan peraturan yang berlaku. Langkah tersebut penting agar persoalan tidak berhenti pada perdebatan di media sosial.
Di sisi lain, klarifikasi dari pria yang disebut sebagai kepala desa juga diperlukan agar pemberitaan tidak hanya bertumpu pada potongan video maupun komentar warganet.
Hingga berita ini disusun, keterangan langsung dari biduan yang terlibat, pihak penyelenggara Bunda Laura Musik, serta pria yang mengambil mikrofon belum diperoleh.
Konfirmasi dari seluruh pihak diperlukan untuk memastikan kronologi, konteks ucapan, serta identitas orang-orang yang muncul dalam video tersebut.(Red/Agi).
